Perang Elektronika

Perang Elektronika

 Seiring dengan pesatnya pendayagunaan jaringan internet global hingga menyentuh keseluruh system peradaban manusia, semakin besar pula ketergantungan terhadap jaringan internet global. Dengan demikian menurut General R. Fogleman “Dominating the information spectrum is critical to conflict now as occupying the land or controlling the air has been in the past”. Artinya siapa saja yang mendominasi ruang informasi, ia akan memperoleh keunggulan dalam perang

Cyberware atau perang elektronika dapat kita lihat secara sederhana dalam bentuk peringatan sampai dengan serangan mematikan pada situs-situs e-commerce, e-goverment, e-military dan database sensitif pada situs sistim pertahanan dan keamanan, kantor presiden, sistem perbankan, sistem transportasi dan lain sebagainya.

 

Dengan adanya perang elektronika arah pengembangan sistem senjata non-tradisional menjadi pertimbangan utama dalam mempersiapkan perang masa depan. Berbagai perangkat disiapkan untuk dapat memperoleh informasi sebesar-sebesarnya seperti satelit mata-mata dan pesawat tanpa awak. Sehingga dapat memetakan setiap meter persegi kekuatan dan kelemahan negara lawan. Kita dapat melihat kemampuan teknologi informasi dalam mencari posisi Saddam Husein dalam perang Irak.

Indonesia sendiri pernah mengalami serangan Cyber hingga tiga kali. Serangan pertama berasal dari hacker RRC dan kelompok cina perantauan pada kerusuhan rasial mei 1998. Serangan kedua terjadi pada sebelum dan pasca jajak pendapat  di Timor Timur pada tahun 1999. Dimana Hacker portugis membobol 45 website Indonesia, termasuk situs departemen luarnegri. Serangan ketiga terjadi sejak peristiwa Ambalat yang memicu para Hacker Indonesia untuk menyerang website Malaysia dan membobol 256 situs dengan melakukan mass defacing yang berisi pesan “Ganyang Malaysia” maupun ” Go away from Ambalat”. Para Hacker Malaysia balik menyerang 36 website Indonesia dan membobol situs Departemen Dalam Negri.

Untuk menghadapi perang elektronika Indonesia menyiapkan sistem K3I suatu sistm koordinasi untuk untuk mengantisipasi dalam menanggulangi gangguan/serangan Cyber yang seringkali tidak dapat di prediksi kecuali setelah terbukti menimbulkan kerugian. Yaitu suatu pengamanan informasi, kemampuan personel, piranti lunak dan piranti keras serta sistem komando, kendali, komunikasi dan Informasi. Berikutnya dilaksanakan pengembangan dengan penggelaran Command, Control, Comunications, Computer, Inteligence, Surveyllance, an Reconaissance atau C4ISR

 

Memang untuk memperoleh suatu alutsista tradisionil sekalipun membutuhkan anggaran yang besrar namun kita membutuhkan anak bangsa yang mampu membuat terobosan jauh kedepan. Bukan anak bangsa yang cuma mampu merambah hutan tanpa menanam kembali, atau menjual pasir hingga ke luarnegri tanpa konvensasi pada kemajuan bangsa. Sehingga setiap jengkal kekayaan negara benar-benar dipergunakan untuk kesejahtraan rakyat. Dan Salah satu bentuk kesejahtraan itu adalah menyiapkan piranti untuk pertahanan keamanan. Dengan demikian negara lain akan berpikir dua kali atau tiga kali untuk mengusik pulau terluar dari Indonesia.