marinir-indonesiaLatihan perang TNI Angkatan Laut bersandiArmada Jaya XXVII 2008 di pantai Banongan, kabupaten Situbondo propinsi Jawa Timur, Sabtu (Feb-2) jam 4:30 dinihari kemarin mengalami musibah. Tewasnya 6 orang prajurit TNI Marinir yang mengendarai sebuah panser pendarat amfibi Marinir jenisBTR-50 PK, yang tenggelam beberapa saat setelah meluncur dari kapal pendarat (LST) nomor lambung 504 bernama KRI Teluk Kau pada posisi07′ 41′ 4” S – 114′ 13′ 42” E.

Dari sekitar 5000 yard jarak pendaratan, hingga kurang dari 1100 yard dari garis pantai, panser amphibi tersebut tenggelam. Menewaskan 6 dari 15 penumpang dan 1 dinyatakan hilang, sisanya selamat. Semua marinir tersebut merupakan elemen dari Kompi A, Battalion 2, Brigade Infantry II, Korps Marinir TNI.

Sebagai seorang Marinir USMC, atas nama pribadi, saya menyatakan belasungkawa atas terjadinya tragedi ini.

Panser amphibi BTR-50 PK in telah berusia sangat uzur, dapat dibayangkan Alutsista (alat utama sistem senjata) tersebut pertama kali dipakai saat operasi Trikora, hingga kini masih dioperasikan. Inilah salah satu hal yang hingga kini saya tidak habis mengerti. Modernisasi Alutsista TNI hanya diatas kertas. Padahal, modernisasi alutsista dilingkungan TNI AL dan Marinir telah dicanangkan oleh Adm. Bernard Sondakh dulu. Kemudian dilanjutkan oleh MjG. (Mar) Safzen Noerdin, hingga penggantinya kini MjG. (Mar) Nono Sumpono, rencana tersebut masih belum berbunyi.

Lucunya lagi ada tarik menarik antara pandangan Presiden R.I. Yudhoyono, terhadap KSAL Adm. Sumardjono tentang pembatasan guna terhadap alutsista yang sudah tua. Alasan pak SBY adalah safety bagi prajurit pemakai alutsista. Jadi bukan hanya AL tetapi melingkupi seluruh jajaran TNI yang alutsistanya sudah amat tua selayaknya di-“grounded”.

Sebaliknya alasan KSAL semua peralatan tua milik TNI-AL telah menjalani retrofit sehingga peremajaan telah dilangsungkan. Sehingga alutsista yang berumur tua tersebut laik pakai. [Luhur Hertanto, Detiknews.com, feb-04]

Sebagai seorang militer, pandangan saya justru tertumbuk pada tanggapan KSAL. Apakah Adm. Sumardjono telah menutup mata bahwa retrofit yang dilaksanakan tidak lebih dari penggantian gearbox dan radio komunikasi saja tahun 1996, bukan pada hull dan body pendarat amphibi BTR-50PK tersebut?

Keterbatasan dana yang didapat dari APBN di FY 2008 telah diungkapkan Menteri Pertahanan Mr. Juwono Sudarsono. Terlebih telah ada “pesanan” dari presiden RI bahwa 5 pos utama di jajaran TNI-AD tidak dihapus maka alokasi dana bagi angkatan lain akan semakin surut. Itu sebabnya penanganan alutsista di lain angkatan menjadi kalang kabut dan memberlakukan sumberdaya yang ada walau alutsista tersebut layak masuk museum.

Ada suatu pertanyaan menggelitik: “Katanya Indonesia adalah negeri bahari, kok Angkatan Laut masih diperlakukan seperti anak tiri?”

Semper Fi,
HH Samosir

Catatan

Penulis adalah seorang Putra batak yang menjadi USMC di US